10 Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang Apoteker

Pada saat ini banyak sekali pertanyaan kepada saya terkait dengan bagaimana profesi bisa dikenal dan dirasakan manfaatnya? Bagaimana seorang apoteker membentuk branding diri sebagai apoteker? kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh seorang apoteker?

Untuk membantu rekan-rekan sejawat apoteker maka saya coba memberikan materi dalam bentuk podcast terkait dengan 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang apoteker agar bisa dikenal dan dirasakan manfaat dari profesi apoteker dalam video di bawah ini :

Transkrip Video dapat anda dapatkan di bawah ini :

Assalamualaikum.wr.wb. Mohon ijin saya berbagi pengamalan sebagai seorang apoteker. Saya sudah berkiprah kurang lebih 12 tahun sebagai apoteker. Kemudian setelah lulus saya pernah bekerja di apotek swasta, saya juga pernah mengajar, kemudian saya CPNS di Pemda DKI dan ditempatkan di puskesmas. Selama 7 tahun saya berkirprah di puskesmas kemudian saya dipromosikan di Sudin Kesehatan dan saat ini saya berdinas di RSUD Kebayoran Lama.

Jadi kalau dipikir-pikir perjalanan saya ini berbeda-beda tempatnya dan tentunya berbeda-beda ceritanya. Makanya saya ingin mengajak teman-teman dan adik-adik, saya ingin bercerita di sini berbagi pengalaman bahwa sebagai seorang apoteker banyak sekali ujiannya tetapi dibalik ujian itu banyak sekali mutiara yang dapat kita dapatkan.

Materi atau tema yang akan diberikan kepada adik-adik semua adalah bagaimana apoteker itu bisa menjadi branding sehingga keberadaannya dirasakan juga kemanfaatannya dirasakan. Materi saya adalah Branding Apoteker untuk peningkatan pelayanan mutu kefarmasian. Nanti saya juga ingin teman-teman tahu bahwa sebagai seorang apoteker itu apasih kompetensi yang harus dimiliki, nanti saya juga akan bercerita bagaimana strategi agar menjadi apoteker yang diakui di masyarakat.

Ini adalah standar kompetensi apoteker, yaitu bahwa yang pertama selain profesionalseorang apoteker juga harus mematuhi kode-kode etikdan disiplinseorang apoteker. Apoteker itu juga harus dapat mengoptimalkan penggunaan sediaan farmasi. Jadi dengan sediaan farmasi yang ada bagaimana bisa digunakan secara optimal. Jadi bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pasien. Kemudian yang ketiga adalah dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Tentu ini sangat melekat yah kompetensinya karena kita dididik dari bangku kuliahan untuk menjadi ahli dispensing dan juga mengenali alat-alat kesehatan yang digunakan di pelayanan. Yang ke-empat adalah pemberian informasi sediaan farmasi obat dan alat kesehatan. Tentu informasi ini adalah kompetensi apoteker sebagai drug informer, apoteker sebagai sumber atau referensi bagi siapapun yang ingin bertanya seputar obat dan alat kesehatan. Kemudian dalam formulasi dan produksi sediaan farmasi, itu apoteker juga memiliki kompetensi yang bisa dibanggakan. 

Yang ke-enam, yah mungkin ini yang terlalu tidak terkenal di kalangan apoteker di perkuliahan. Jadi apoteker bukan hanya di industri, bukan hanya di rumah sakit akan tetapi bagaimana apoteker itu sendiri bisa turun dan memberikan kontribusi untuk melakukan upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakatdan ini melekat pada peran apoteker di puskesmas. Oleh karena itu himpunan seminat kami Hisfarkesmas mengurusi bagaimana apoteker perannya di masyarakat di puskesmas agar bisa meningkatkan perannya di preventif dan promotif kesehatan. 

Kemudian yang ke-tujuh apoteker itu harus kompeten dalam pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Teman-teman, saat covid sekarang ini perang apoteker luar biasa besar sekali dan pengelolaan sediaan farmasi terutama untuk pasien-pasien covid dan alat kesehatan, APD yang dibutuhkan tenaga kesehatan. Maaf ini saya membahas tentang covid karena di rumah sakit saya setiap hari pergi ke rumah sakit dengan sedikit deg-degan ya adalagi tidak yah pasien yang terdampak terkait dengan pendemi ini. Luar biasa sebetulnya nanti saya akan jelaskan. Yang ke-delapan adalah komunikasi efektif. Ini adalah kompetensi apoteker yang harus di asah. Karena yang namanya komunikasi, ketika kita belajar ilmunya tetapi tidak dipraktekan maka tidak akan berdampak. Karena apoteker ketika dia kompeten dalam komunikasi maka dia harus selalu melatih dirinya menjadi seorang komunikator yang hebat. 

Kemudian yang ke-sembilan adalah bagaimana seorang apoteker ini bisa berkontribusi terampil dalam berorganisasi dan hubungan interpersonal. Yang terakhir adalah peningkatan kompetensi diri. Di sini bahwa teman-teman jangan pernah berhenti untuk belajar karena kompetensi itu harus tetap ditingkatkan. 

Ini adalah strategi, bagaimana apoteker kemudian menjadi diakui, menjadi terasa manfaatnya. Ini saya formulasikan karena saya sudah pernah mengalaminya sendiri dari berbagai dinamika yang ada.