Perlunya apoteker memperkenalkan diri kepada pasien

Profesi dokter, bidan dan perawat memang mungkin lebih dikenal oleh masyarakat jika dibandingkan dengan profesi apoteker. Hal ini bisa jadi dimungkin karena mereka berkomunikasi langsung dengan pasien saat menjalankan pekerjaan profesinya, sedangkan apoteker jarang bertatap muka dengan pasien karena jarang berada di apotek atau saat bertugas hanya berada di dalam dan memberikan tugas serta wewenang keada asisten apoteker.

Berdasarkan hasil pooling internal yang dilakukan oleh informasi-obat.com mengenai pengetahuan pasien mengenai apakah mereka mengetahui tugas seorang apoteker didapatkan data dari 101 peserta pooling, sebanyak 86 orang (85 %) menyatakan bahwa mereka mengetahui tugas seorang apoteker, 10 orang (9,9 %) menyatakan tidak tahu profesi apoteker itu apa dan 5 orang (5 %) memilih tidak tahu tugas seorang apoteker.

Read more

Sejarah profesi farmasi

Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Seorang dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan  adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.

Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri obat dan di bidang “penyedia/peracik” obat (=apotek). Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi pembuatan obat.

Read more