Yang perlu diketahui tentang Telepharmacy

Pada saat ini perkembangan teknologi informatika seperti internet sangat mempengaruhi banyak sektor dan termasuk di dalamnya yang ikut terpengaruh adalah sektor farmasi. Tidak bisa dipingkiri bahwa peranan teknologi informatika banyak membantu layanan farmasi sehingga dapat memberikan layanan kefarmasian kepada masyarakat, salah satu teknologi yang saat ini mulai dibicarakan adalah telepharmacy.

Apa itu Telepharmacy ?

Mungkin banyak yang masih bertanya apakah itu telepharmacy ? berdasarkan sumber dari wikipedia, Telepharmacy is the delivery of pharmaceutical care via telecommunications to patients in locations where they may not have direct contact with a pharmacist atau dalam bahasa indonesia telepharmacy adalah proses pemberian layanan perawatan farmasi menggunakan media telekomunikasi kepada pasien dimana pasien tidak memiliki kontak langsung atau tidak bisa bertemu langsung dengan apoteker.

Berdasarkan American Society of Hospital Pharmacist, Telepharmacy is  method in which a pharmacist utilizes telecommunications technology to oversee aspects of pharmacy operations or provide patient care services atau dalam bahasa indonesia telepharmacy adalah metode dimana seorang apoteker menggunakan teknologi telekomunikasi untuk mengawasi aspek-aspek operasi farmasi atau menyediakan layanan kefarmasian.

Sejarah Telepharmacy

Pemanfatan Telepharmacy berdasarkan catatan mulai dilakukan di negara Australia pada tahun 1942 oleh Australias Royal Flying Doctor. Pada saat itu mereka menggunakan peti-peti medis yang berisikan obat-obatan dan peralatan yang mereka tempatkan di komunitas atau wilayah terpencil yang nantinya akan mereka  berikan kepada pasien pada saat pemeriksaan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan sampai dengan tahun 2006 dimana sudah menerapkan tambahan teknologi didalamnya.

Selain di Australia, negara Amerika juga sudah menerapkan konsep telepharmacy sejak tahun 2000-an. Kondisi geografis yang berjauhan serta membutuhkan waktu untuk menjangkau lokasi menjadi hal yang menyebabkan Amerika menerapkan konsep ini sebagai alternatif kurangnya tenaga kesehatan serta tenaga farmasi. Pada tahun 2001, North Dakota di Amerika mengeluarkan kebijakan yang pertama kali di Amerika yang memperbolehkan layanan farmasi dapat beroperasional meskipun tenaga farmasinya tidak ada secara fisik di fasilitas layanan farmasi tersebut. Selanjutnya diikuti dengan pelaksanaan projek telepharmacy dalam layanan kefarmasiannya. Sejak saat itu implementasi dari telepharmacy juga berkembang di wilayah Amerika yang lainnya.

Di Canada, penerapan telepharmacy dilakukan untuk menjawab tantangan kurangnya tenaga farmasi di negera tersebut. Pada tahun 2003, Rumah sakit di Cranbook, British Canada adalah yang pertama kali menjalankan telepharmacy di Canada. Karena kekurangan tenaga farmasi, untuk menjalankan layanan kefarmasian rumah sakit ini menggunakan telepharmacy untuk menggunakan tenaga farmasi di rumah sakit lain dalam memberikan layanan kefarmasian kepada pasien. Impelementasi telepharmacy ini kemudian juga mulai diterapkan di rumah sakit lain di Canada. Selain ketiga negara tersebut ada beberapa negara lain yang mungkin tidak dapat disebutkan yang sudah juga menerapkan telepharmacy seperti Inggris dan Hongkong.

Bagaimana mekanisme kerja Telepharmacy ?

Berdasarkan tulisan Arjun Poudel dan Lisa M Nissen pada jurnal berjudul Telepharmacy: a pharmacists perspective on the clinical benefits and challenges disampaikan secara umum mekanisme kerja telepharmacy dapat digambarkan misalkan sebuah fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik dan puskesmas yang berada di  area yang terisolasi terhubung ke layanan menggunakan teknologi kepada layanan farmasi dan apoteker di pusat kota yang lebih besar yang memiliki akses lebih besar (bisa jadi waktu layanan 24 jam). Koneksi ini dimungkinkan melalui sistem perangkat lunak dan perangkat keras seperti videophone dan yang lainnya.

Mereka dapat mengkomunikasikan resep (misalnya melalui faksimil atau video call) dari pasien yang kemudian diproses oleh apoteker yang berkualifikasi. Apoteker yang berada di tempat pusat kota tesebut selanjutnya meninjau resep tersebut dan merekomendasikan obat-obat yang sesuai yang persediaannya ada di pedesaan.

Keuntungan dan kerugian penggunaan Telepharmacy

Keuntungan dari penggunaan Telepharmacy adalah potensinya untuk memperluas akses ke layanan farmasi di komunitas pedesaan yang lebih kecil, dimana beberapa di antaranya tidak dapat mendukung seorang apoteker bekerja dengan penuh waktu atau tidak dapat dengan mudah merekrut seorang apoteker untuk tinggal di wilayah mereka.

Selain itu Telepharmacy berpotensi memberikan pasien di lokasi terpencil akses ke perawatan farmasi profesional yang tidak dapat diterima secara lokal, yang dapat menurunkan biaya dan meningkatkan keselamatan pasien melalui konseling pasien yang lebih baik, pemantauan administrasi obat, dan pemantauan kepatuhan. Berbagi apoteker antar lokasi layanan kefarmasian juga dapat mengurangi biaya di fasilitas yang ada, yang mungkin tidak perlu lagi mempekerjakan apoteker penuh waktu.

Lalu apa kerugian dari penggunaan Telepharmacy? dalam layanan Telepharmacy membutuhkan dukungan sarana pendukung berupa perangkat teknologi dalam memberikan layanan kefarmasian sehingga membutuhkan kemampuan tambahan di instalasi farmasi dalam melakukan instalasi dan penggunaan perangkat tersebut. Biaya yang relatif besar juga dibutuhkan dalam penerapan teknologi Telepharmacy ini. Salah satu yang mungkin bisa menjadi kerugian adalah berkurangnya kebutuhan tenaga apoteker karena pemanfatan Telepharmacy memungkinkan satu apoteker memberikan layanan ke tempat lain selain tempat apoteker tersebut bekerja.

Dari sisi tenaga apoteker sudah pasti membutuhkan kompetensi tambahan baik dalam pengunaan teknologi dan kemampuan penyampaian komunikasi yang baik kepada pasien dalam menjelaskan obat atau dalam melakukan konseling obat karena posisi pasien tidak berada di tempat yang sama.

Bagaimana pemanfatan Telepharmacy di Indonesia?

Peluang dari pemanfaatan teknologi Telepharmacy cukup besar karena wilayah Indonesia yang terdiri dari kepulauan serta jarak antara satu tempat menuju tempat lain cukup jauh. Jika Telepharmacy ini diterapkan akan bisa membantu layanan farmasi menjadi lebih baik. Jumlah tenaga apoteker yang mungkin belum memadai atau cukup juga bisa menjadi alasan mengapa teknologi Telepharmacy menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan.

Tantangan dari pelaksanaan Telepharmacy adalah sudah pasti yang pertama adalah regulasi dari pemerintah yang akan mengatur bagaimana pelaksanaan secara teknis terutama di instalasi farmasi di rumah sakit, puskesmas serta di apotek. Regulasi ini akan sangat diperlukan sebagai dasar panduan dalam mengelola Farmasi menggunakan teknologi Telepharmacy. Tantangan lain dalam pelaksanaan Telepharmacy di Indonesia adalah infrastruktur jaringan internet. Teknologi Telepharmacy di dalamnya menggunakan media video call sehingga sudah pasti membutuhkan jaringan internet yang stabil sehingga layanan farmasi melalui Telepharmacy bisa optimal. Perlu dipastikan kondisi daerah-daerah yang memiliki kesulitan akses secara transportasi memiliki koneksi internet serta koneksi yang stabil karena disitulah sebenarnya manfaat Telepharmacy akan sangat terasa secara signifikan.